Senin, 24 Maret 2014

BERFIKIR DEDUKTIF dan INDUKTIF

Fatimah Khairunissa
12211731
3EA18

1.      Berfikir Deduktif

Berfikir Deduktif, yaitu adalah cara berpikir dengan berdasarkan suatu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan.

a.       Silogisme

Ø  Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.

ü  Silogisme kategorial terjadi dari tiga proposisi, yaitu:
Premis umum              : Premis Mayor (My)
Premis khusus             : Premis Minor (Mn)
Premis simpulan          : Premis Kesimpulan (K)
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.

ü  Contoh
My       : Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA
Mn       : Badu adalah mahasiswa 
K         : Badu lulusan SLTA

My       : Tidak ada manusia yang kekal 
Mn       : Socrates adalah manusia 
K         : Socrates tidak kekal 

My       : Semua mahasiswa memiliki ijazah SLTA.
Mn       : Amir tidak memiliki ijazah SLTA
K         : Amir bukan mahasiswa 

Ø  Silogisme Hipotesis
Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. Konditional hipotesis yaitu, bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, kesimpulannya juga menolak konsekuen.

ü  Contoh
My       : Jika tidak ada air, manusia akan kehausan.
Mn       : Air tidak ada.
K         : Jadi, Manusia akan kehausan.

My       : Jika tidak ada udara, makhluk hidup akan mati.
Mn       : Makhluk hidup itu mati.
K         : Makhluk hidup itu tidak mendapat udara.

Ø  Silogisme Alternative
Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.

ü  Contoh 
My       : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Mn       : Nenek Sumi berada di Bandung.
K         : Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.

My       : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor
Mn       : Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
K         : Jadi, Nenek Sumi berada di Bandung.

b.       Entimen
Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.

ü  Contoh:
·         Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
·         Anda telah memenangkan sayembara ini, karena itu Anda berhak menerima hadiahnya.

2.      Berfikir Induktif
Berpikir induktif merupakan suatu pemikiran yang bergerak dari premis spesifik ke konklusi umum atau generalisasi. Observasi dan pengalaman digunakan untuk mendukung generalisasi. Premisnya tidak menjadi dasar untuk kebenaran konklusi, tetapi memberikan sejumlah dukungan untuk konklusinya. Konklusi induktif jauh melampaui apa yang ada pada premisnya.

a.       Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala atau peristiwa itu. Generalisasi diturunkan dari gejala-gejala khusus yang diperoleh melalui pengalaman, observasi, wawancara atau studi dokumentasi. Sumbernya dapat berupa dokumen, statistik, kesaksian, pendapat ahli, peristiwa-peristiwa politik, sosial, ekonomi, atau hukum. Dari berbagai gejala atau peristiwa khusus itu, orang membentuk opini, sikap, penilaian, keyakinan, atau perasaan tertentu.

Ø  Generalisasi Tanpa Loncatan Induktif
Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi atas dasar penyimpulan yang telah diselidiki.

ü  Contoh            : data survey LSM

Ø  Generalisasi Dengan Loncatan Induktif
Adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.

ü  Contoh : Hampir seluruh partai mendapat pendapatan dari hasil korupsi.

b.      Analogi  
adalah suatu proses penalaran membandingkan sifat esensial yang mempunyai persamaan. Dengan asumsi tersebut diasumsikan ada persamaan pula dalam hal lainya.

Ø  Ada 2 macam analogi,yaitu :
ü  Analogi Induktif
Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua. Analogi induktif merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan.

ü  Analogi Deklaratif
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai.

c.       Contoh paragraph sebab-akibat, akibat-sebab

Ø  Hubungan sebab – akibat
Dalam hubungan ini dikemukakan terlebih dahulu hal-hal yang menjadi sebab, kemudian ditarik kesimpulan yang berupa akibat.

ü  Contoh
Belajar, berdoa, tekun dan tidak putus asa adalah hal yang bias membuat kita berada di puncak kesuksesan.

Ø  Hubungan akibat – sebab
Dalam hubungan ini dikemukakan terlebih dahulu hal-hal yang menjadi akibat, selanjutnya ditarik kesimpulan yang merupakan sebabnya.

ü  Contoh :
Dewasa marak terjadi tindak criminal di perkotaan seperti,tingkat stress yang tinggi, tawuran antar wilayah dan bunuh diri yang disebabkan kenaikan harga bbm sehingga mengalami kesulitan ekonomi.

Sumber :


Rabu, 12 Maret 2014

Tugas 1. Bahasa Indonesia 2

PENALARAN

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).

Ø  Definisi penalaran menurut para ahli
1.    Keraf (1985 : 5) berpendapat bahwa penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, menuju kepada suatu kesimpulan.
2.      Bakry (1986 : 1) menyatakan bahwa penalaran atau reasoning merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui.
3.   Suriasumantri (2001 : 42) mengemukakan secara singkat bahwa penalaran adalah suatu aktivitas       berpikir dalam pengambilan suatu simpulan yang berupa pengetahuan.

PROPOSISI

Proposisi adalah ekspresi verbal dari putusan yang berisi pengakuan atau pengingkaran suatu (predikat) terhadap sesuatu yang lain (subyek) yang dapat dinilai benar atau salah. Dengan kata lain, proposisi adalah pernyataan yang lengkap dalam bentuk subjek-predikat atau term-term yang membentuk kalimat. Kaliimat Tanya,kalimat perintah, kalimat harapan , dan kalimat inversi tidak dapa disebut proposisi . Hanya kalimat berita yang netral yang dapat disebut proposisi. Tetapi kalimat-kalimat itu dapat dijadikan proposisi apabila diubah bentuknya menjadi kalimat berita yang netral.

EVIDENSI

Pada hakikatnya evidensi adalah semua yang ada semua kesaksian,semua informasi,atau autoritas yang dihubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran, fakta dalam kedudukan sebagai evidensi tidak boleh dicampur adukan dengan apa yang di kenal sebagai pernyataan atau penegasan. Dalam wujud yang paling rendah. Evidensi itu berbentuk data atau informasi. Yang di maksud dengan data atau informasi adlah bahan keterangan yang di peroleh dari suatu sumber tertentu.

Ø  Cara menguji data
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian tersebut.
1. Observasi
2. Kesaksian
3. Autoritas

Ø  Cara menguji fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
1. Konsistensi
2. Koherensi

Ø  Cara menguji autoritas
Seorang penulis yang objektif selalu menghidari semua desas-desus atau kesaksian dari tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.
1. Tidak mengandung prasangka
2. Pengalaman dan pendidikan autoritas
3. Kemashuran dan prestise
4. Koherensi dengan kemajuan

Sumber :

Selasa, 19 November 2013

PERILAKU KONSUMEN (PENELITIAN SOSIS BAKAR)

TUGAS PERILAKU KONSUMEN
PENELITIAN SOSIS BAKAR














KELOMPOK 3

KETUA          : ANDRI SETIAWAN           (10211810)
Ø  ULZPAH FAUZIAH             (17211221)
Ø  FATIMAH KHAIRUNISSA            (12211731)
Ø  M.IZZUDDIN                                    (14211886)
Ø  JOHANDA WIRADITYA    (19211239)
Ø  MUHAMMAD IKBAL         (14211671)
Ø  AYU NUR AFIYANI                       (11211330)
Ø  INDAH ADIYATI                (13211856)
Ø  WAHYU SUPRIADI                        (17211343)



KATA PENGANTAR

Puji syukur  kepada Allah S.W.T yang telah memberikan kelancaran pada tugas penelitian kami, yang berjudul “PENELITIAN SOSIS BAKAR”.
Terimakasih juga kepada pihak-pihak yang telah berpartisipasi dalam penelitian yang kami jalani, sehingga penelitian kami selesai dengan cukup lancar.
Kami ucapkan terimakasih secara khusus kepada:
1.      Dosen Perilaku Konsumen (softskill), M.Syahwildan
2.      Para konsemen yang sudah membeli sosis kami
3.      Anggota kelas 3EA18
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Perilaku Konsumen . Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan meskipun demikian semoga makalah ini dapat memberikan manfaat.





DAFTAR ISI



COVER
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………..            1
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………….            2
ABSTRAK ………………………………………………………………………………....            3
BAB1. PENDAHULUAN    …………………………………………………………….... 3
1.1              LatarBelakang             ……………………………………………………………… 3
1.2              RumusanMasalah        ……………………………………………………………… 3
1.3              Tujuanpembahasan      ……………………………………………………………… 3
BAB 2. PEMBAHASAN      ……………………………………………………………… 4-5
BAB 3. PENUTUP    ……………………………………………………………………… 6
3.1       Kesimpulan     ……………………………………………………………………… 6





ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perilaku konsumen terhadap produk sosis bakar biasa dengan sosis bakar mayones.

BAB 1. PENDAHULUAN

Syarat yang harus dipenuhi oleh perusahaan agar dapat sukses dalam persaingan  adalah berusaha mencapai tujuan untuk menciptakan dan mempertahankan pelanggan ( Levitt, 1987).
Dengan demikian perusahaan atau seorang produsen harus berupaya menghasilkan barang dan jasa yang diinginkan  konsumen dengan harga yang pantas (reasonable) dan menciptakan brand image di tengah situasi perdagangan yang sangat ketat dan daya beli konsumen yang terbatas karena dampak dari kondisi perekonomian negara yang belum stabil.
Perusahaan harus  benar – benar memahami perilaku  konsumen  yang  berkaitan dengan memberikan kepuasan secara lebih  baik kepada konsumennya ( kotler, et al. 1996).
Perilaku konsumenitu sendiri merupakan tindakan–tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh, menggunakan, dan menentukan produk dan jasa, termasuk proses  pengambilan keputusan yang mendahuluin dan mengikuti ntindakan­tindakan tersebut .
Keputusan konsumen dalam membeli suatu produk selalu melihat kualitas dan  harga. Konsumen beranggapan jikasuatu produk sudah terkenal maka harganya sedikit lebih mahal dibandingkan dengan produk lain sejenis yang belum terkenal.

1.1  LatarBelakang
Sosis bakar merupakan salah satu menu kuliner yang enak dengan  harga terjangkau, Sosis yang akan kami teliti yaitu perbandingan antara sosis bakar biasa dengan sosis bakar mayones.

1.2  RumusanMasalah
1.      Mengapa sosis bakar yang menjadi objek penelitian?
2.      Apa yang membedakan sosis bakar mayones dengan sosis bakar biasa, dari segi rasa, harga, maupun tampilan?

1.3  Tujuanpembahasan
      Tujuan dari pembahasan Penelitian Sosis Bakar adalah untuk meneyelesaikan Tugas yang di berikan dosen.



BAB 2. PEMBAHASAN
2.1  Mengapa sosis bakar menjadi objek penelitian?
Mengapa harus sosis bakar? Karena sosis bakar adalah salah satu menu kuliner yang banyak digemari oleh setiap kalangan, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dan harganya pun cukup terjangkau  untuk semua kalangan.

2.2  Perbadaan sosis bakar biasa dengan sosis bakar mayones
Yang membedakan dari kedua sosis ini adalah bentuk sosis, aneka rasa sosis, harga, ukuran, dan penampilan.
Bisa kita lihat dari table berikut:
Ø  Sosis bakar biasa

Rasa / level pedas
Harga
Level bocah   (tidakpedas)


Rp 1.500,00
Level merem  (sedikitpedas)
Level melek   (pedas medium)
Level melotot (pedas)
Level nangis   (sangatpedas)

Bisa kita perhatikan dari tabel diatas, dari segi harga tidak ada perbedaan walaupun dengan rasa yang berbeda-beda.
Bumbu yang digunakan dalam pembuatan sosis bakar biasa adalah saus, kecap, dan sambal kacang. Cara pengemasan pun hanya menggunakan plastic bening ukuran 1/4kg. bila kita lihat sedikit tidak menarik.


Ø  Sosisbakarmayones

Tampilan
Rasa
Ukuran
Harga

17cm


Rp 6.500,00

22cm


Rp 8.000,00

 Saus mayones + Barbeque




17cm




22cm



Rp 10.000,00




Rp 12.000,00


·      Pedas

Dari tabel diatas bisa kita simpulkan bahwa sosis bakar mayones lebih menarik dibandingkan sosis bakar biasa, baik dari penampilan, rasa maupun ukuran yang lebih  besar. Walaupun dengan harga yang lebih tinggi.
Sosis bakar mayones yang lebih digemari ialah sosis bakar saus mayones dengan ukuran 17cm, karena walaupun dengan ukuran 17cm konsumen tetap mendapatkan kepuasan rasa yang sama dengan ukuran 22cm, walaupun kuantitas besar sosis berbeda.




BAB 3. PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Dalam penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa sosis bakar yang lebih menarik perhatian atau diminati oleh konsumen adalah sosis bakar mayones. Karena dengan harga yang cukup terjangkau, konsumen sudah dapat menikmati sosis bakar dengan kualitas yang tidak mengecawakan.





STRUKTUR ORGANISASI